Ayahmu Bulan, Engkau Matahari

Ayahmu Bulan Engkau Matahari Tujuh belas kisah dalam buku ini membawakan cerita cerita dari ruang dapur sampai wilayah konflik Dari urusan tepung terigu sampai misi kemanusiaan di Ramallah Hampir semua tokoh utama adalah perempua

  • Title: Ayahmu Bulan, Engkau Matahari
  • Author: Lily Yulianti Farid
  • ISBN: 9789792287080
  • Page: 164
  • Format: Mass Market Paperback
  • Tujuh belas kisah dalam buku ini membawakan cerita cerita dari ruang dapur sampai wilayah konflik Dari urusan tepung terigu sampai misi kemanusiaan di Ramallah Hampir semua tokoh utama adalah perempuan dari beragam usia, ras, budaya, dan agama Mereka bergelut dengan pencarian jati diri, ketimpangan gender, cinta segitiga, hingga masalah masalah sosial politis yang kerapTujuh belas kisah dalam buku ini membawakan cerita cerita dari ruang dapur sampai wilayah konflik Dari urusan tepung terigu sampai misi kemanusiaan di Ramallah Hampir semua tokoh utama adalah perempuan dari beragam usia, ras, budaya, dan agama Mereka bergelut dengan pencarian jati diri, ketimpangan gender, cinta segitiga, hingga masalah masalah sosial politis yang kerap menjadikan perempuan sebagai objek Dilatari ilustrasi yang indah dan detail cerita yang unik, Lily Yulianti Farid menampilkan suara suara perempuan paling jernih dalam meneriakkan kegelisahan, kemarahan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang kerap terjadi di mana pun mereka berada.

    • Ayahmu Bulan, Engkau Matahari by Lily Yulianti Farid
      164 Lily Yulianti Farid
    • thumbnail Title: Ayahmu Bulan, Engkau Matahari by Lily Yulianti Farid
      Posted by:Lily Yulianti Farid
      Published :2019-05-03T20:14:11+00:00

    About "Lily Yulianti Farid"

    1. Lily Yulianti Farid

      Lily Yulianti Farid, also known as Ly in short, is an Indonesian writer and journalist.Lily Yulianti Farid was born and raised in Makassar, Indonesia At present, she lives in Melbourne, Australia She joined Hasanuddin University, Makassar as an agricultural engineering student, where she began her literary career with the campus publication, Identitas After graduation, she worked as a reporter of the Kompas daily from 1996 until 2000 In 2001, she went to the University of Melbourne for Master s degree in Gender and Development In 2010 she registered for Ph.D in Gender and Media from the same university which is slated to be finished in 2014 While in Melbourne she continued her journalistic writing by working as producer of Radio Australia online during 2001 2004 From 2004 2009, Ly worked as a radio program specialist producer of Radio Japan NHK , Tokyo During this period, in 2006 she also joined as a columnist for Nytid News Magazine , Norway and is still associated with them.Lily began her career in writing and journalism, and is now engaged in a number of independent projects also, namely Panyingkul panyingkul , which is Indonesia s first citizen journalism web site launched on July 1, 2006 in Makassar to promote citizen s active participation in media Makkunrai Project , which is a gender awareness program through literature and stage performance launched in March 2008 Her first short stories compilation, Makkunrai, consisting of eleven stories based on the themes of gender, corruption, polygamy and politics from female perspective, was also released during the launch of Makkunrai Project, along with the active participation of seasoned writer and artist Luna Vidya In September 2008, Maiasaura appeared as Lily s second collection of stories published by Panyingkul The stories are based on journals, news and documents of Women s NGOs, Human Rights Organizations Reports and various media outlet.Lily later produced another short story collection, entitled , which was translated into English, along with Makkunrai and Maiasaura by the Lontar Foundation, and selected for the Modern Library of Indonesia series Her short story, The Kitchen , was published in the January 2009 issue of the Chicago based journal, Words without Borders In 2009, she appeared as a featured speaker on a panel about Global Journalism and Organizing at the Women, Action The Media 2009 Conference in Cambridge In 2010, she also established a culture house, Rumata Artspace as a joint project with film director Riri Riza Rumata , which is a Bugis Makassar word for our house aims to serve as an independent forum for the development of arts and culture in Makassar and revival of South Sulawesi s literary tradition.She is also credited with the role of the initiator and director of the mid June Makassar International Writers Festival MIWF in Makassar in 2011 Her strong belief in literary writing and reading tradition encouraged her to attend festivals of writers in several countries like Singapore, Australia, France, the Netherlands and Hongkong, besides Ubud, Bali, and Utan Kayu, Jakarta from

    810 thoughts on “Ayahmu Bulan, Engkau Matahari”

    1. Lily Yulianti Farid memang merupakan nama baru buat gw. Namun, karyanya yg satu ini patut diperhitungkan. Cerpennya menggugah, indah dan sarat pesan. Paling suka Ruang Keluarga, Nua, Diani dan Laki-laki Bejat, Maiasaura, Kelas 1-9, Kecap, Dapur Api dan Kue Lapis (walahkok hampir semuanya?). Ilustrasinya unik, nampak sekali pengaruh Jepang-nya. Semoga beliau menelurkan karya-karya seindah ini kelak. Karya macam ini yg bikin gw cintaaaaaaaaaaa banget sama cerpen Indonesia.


    2. Meski sudah kemecer dengan buku ini lama, berkali-kali membaca satu dua cerpen di sampel buku kalau menjelajahi Gramedia, berkali-kali melihat review di Goodread, baru sekarang buku ini masuk di rak buku. Pertama buku Ayahmu Bukan, Engkau Matahari menarik dari rupa sampul yang cantik. Rupa cover sangat memengaruhi "nafsu" saya memiliki buku dan membacanya. Warna pastel susu lembut dengan ilustrasi yang cantik dengan dominasi kuning. Kedua buku ini istimewa juga masuk 10 besar Longlist Kathulisti [...]


    3. "Apakah yang lebih sedih daripada merayakan kelahiran yang juga adalah hari kematian Ayah?" (Ayahmu Bulan, Engkau Matahari, halaman 11)Cerpen pertama sekaligus menjadi judul untuk kumpulan cerpen ini, 'Ayahmu Bulan, Engkau Matahari', bercerita tentang seorang perempuan bernama Jannah yang ketika lahir terjadi ricuh di kampungnya. Ia kehilangan ayah tepat saat kelahirannya."Ayahmu bulan, engkau matahari. Dua bola langit yang tidak pernah bertemu, tapi saling mencari, saling merindu, saling menjag [...]


    4. kumcer yang padat berisi, dan semuanya mengisahkan tokoh-tokoh perempuan aneka umur, pekerjaan dan latar belakang, dengan satu persamaan, mereka semua karakter yang sangat kuat meski berbagai jalan nasib dan tragedi datang mencobaiview lengkap ada di readbetweenpages.i


    5. bacanya harus pelan-pelan dan di tempat yang tenang, biar bisa paham maksud dan makna dari setiap cerpen di dalamnya.


    6. *profesi-unm/2015/01/mePembahasan tentang perempuan nampaknya memang tak pernah ada habis-habisnya. Dalam berbagai media, perempuan akan selalu layak untuk diperbincangkan. Mulai dari forum diskusi formal dan nonformal, karya seni, maupun karya sastra.Dalam Alquran sekalipun, sebegitu istimewanya kaum hawa hingga memiliki nama surah tersendirinya. Apatah lagi, jika perempuan menjadi pokok bahasan yang ditulis dalam sebuah buku.Lily Yulianti Farid, seorang penulis perempuan terbaik yang dimiliki [...]


    7. Kecewa pada "Perempuan yang Melukis Wajah" tak membuat saya kapok untuk membeli kumpulan cerpen. Dan hasilnya, FANTASTIS. Saya sangat menyukai SEMUA cerita yang ada di buku ini.Ketika saya membaca buku ini atmosfer yang saya rasakan sama seperti saat saya membaca karya-karya mbak Okky Madasari (Entrok, 86, dan Maryam). Saya suka itu. Jarang sekali ada karya-karya penulis wanita Indonesia yang kritis dan menyindir. Yang tidak hanya memberikan hiburan yang mudah dilupakan pembacanya.Two thumbs up! [...]


    8. It is hard not to choose my personal favorite stories when reading a book that consist of so many different stories. Well I have two favorite stories from this book, 'Ayahmu Bulan, Engkau Matahari' and 'Jois dan Sang Malaikat'. Those stories were really really good. While the other was okay.


    9. Tiga bintang untuk cerpen Ruang Keluarga, Kecap, dan Jois dan Sang Malaikat yang menyentuh. Selebihnya, saya tidak bisa bilang jelek (karena memang bagus), tapi tidak meninggalkan kesan. Itu saja, tidak pakai pertanyaan berawalan kenapa atau mengapa. ^^


    10. banyak persoalan perempuan yang diangkat, dengan setting kampung sampai kehidupan urban. gaya bercerita lily terkadang mendayu, sesekali lugas. cerita-cerita yang cukup enak dibaca sambil minum teh di sore hari. beberapa cerpen lebih cocok untuk dikembangkan jadi novel.


    11. Mantap!saya membaca buku ini benar-benar tersentuh sekaligus tersindir karena berhasil membuat saya berfikir, iri, dan sekaligus kagum




    12. Beruntung banget dapet buku ini cuma cuma di Gramedia Pucang dan dapet murah pula. Padahal ngincer dari tahun lalu masalahnya longlist KLA '13 hehe. Kelar secara cepat.


    13. #65 - 2013yang paling meninggalkan kesan ada di Cerpen Kecap & Jois dan Sang Malaikat. 3 bintang untuk 2 cerpen itu. yang lainnya kurang 'kena' di saya. masalah selera saja kurasa.



    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *